Minggu, 16 Januari 2011

Kalium Permanganat (PK)

Kalium permanganat (PK) merupakan oksidator kuat yang sering digunakan untuk mengobati penyakit ikan akibat ektoparasit dan infestasi bakteri terutama pada ikan-ikan dalam kolam. Meskipun demikian untuk pengobatan ikan-ikan akuarium tidak sepenuhnya dianjurkan karena diketahui banyak spesies ikan hias yang sensitif terhadap bahan kimia ini.

Bahan ini diketahui efektif mencegah flukes, tricodina, ulcer, dan infeksi jamur. Meskipun demikian, penggunaanya perlu dilakukan dengan hati-hati karena tingkat keracunannya hanya sedikit lebih tinggi saja dari tingkat terapinya. Oleh karena itu, harus dilakukan dengan dosis yang tepat. Tingkat keracunan PK secara umum akan meningkat pada lingkungan akuarium yang alkalin. Potasium permanganat tersedia sebagai serbuk maupun larutan berwarna violet.

Kalium permanganat (KMnO4) merupakan alkali kaustik yang akan tersdisosiasi dalam air membentuk ion permanganat (MnO4-) dan juga mangan oksida (MnO2) bersamaan dengan terbentuknya molekul oksigen elemental. Oleh karena itu, efek utama bahan ini adalah sebagai oksidator.

Dilaporkan bahwa permanganat merupakan bahan aktif beracun yang mampu membunuh berbagai parasit dengan merusak dinding-dinding sel mereka melalui proses oksidasi. Beberapa literatur menunjukkan bahwa mangan oksida membentuk kompleks protein pada permukaan epithelium, sehingga menyebabkan warna coklat pada ikan dan sirip, juga membentuk kompleks protein pada struktur pernapasan parasit ikan yang akhirnya menyebabkan mereka mati.

Berbagai review dalam berbagai literatur menunjukkan bahwa kalium permangat dapat membunuh Saprolegnia, Costia, Chilodinella, Ich, Trichodina, Gyrodactylus dan Dactylogyrus, Argulus, Piscicola, Lernea, Columnaris dan bakteri lainnya seperti Edwardsiella, Aeromonas, Pseudomonas, plus Algae dan Ambiphrya.

Mekipun demikian Argulus, Lernea and Piscicola diketahui hanya akan respon apabila PK digunakan dalam perendaman (dengan dosis: 10-25 ppm selama 90 menit). Begitu pula dengan Costia dan Chilodinella, dilaporkan resiten terhadap PK, kecuali apabila PK digunakan sebagai terapi perendaman.

Kalium permangat sebagai terapi perendaman bersifat sangat kaustik, hal ini dapat menyebabkan penggumpalan nekrosis (ditandai dengan memutihnya jaringan yang mati) pada sirip. Kerusakan insang juga dapat terjadi, sehingga dapat menyebabkan kematian pada ikan beberapa minggu kemudian setelah dilakukan terapi perendaman. Ikan mas koki, diketahui lebih sensitif terhadap PK sebagai terapi perendaman dibandingkan dengan spesies lainnya. Dengan alasan-alasan seperti itu, maka sering tidak direkomendasikan untuk menggunakan PK sebagai terapi perendaman, dan juga karena efek terapeutiknya tidak lebih baik dibandingakan dengan terapi terus-menerus dengan dosis 2 - 4 ppm.

Kalium permanganat sangat efektif dalam menghilangkan Flukes. Gyrodactylus dan Dactylus dapat hilang setelah 8 jam perlakuan dengan dosis 3 ppm pada suatu sistem tertutup. Penularan kembali masih dapat terjadi, oleh karena itu, direkomendasikan untuk mengulang kembali perlakuan 2-3 hari kemudian dengan dosis 2 ppm.

Beberapa khasiat lain dari Kalium permangat yang dilaporkan diantaranya adalah: sebagai disinfektan luka, dapat mengurangi aeromanoas (hingga 99%) dan bakteri gram negatif lainnya, dapat membunuh Saprolegnia yang umum dijumpai sebagai infeksi sekunder pada Ulcer, dan tentu saja sebagai oksidator yang akan mengkosidasi bahan organik.

Beberapa aplikasi lain yang biasa dilakukan oleh para hobiis dan akuakulturis adalah menggunakannya dalam proses transportasi ikan. Konsentrasi kurang dari 2 ppm diketahui dapat mengurangi resiko infeksi Columnaris dan infeksi bakteri lainnya, serta membatasi dan menghentikan parasit yang sering menyertai ikan dalam proses transportasi. Begitu juga transportasi burayak dilaporkan aman dengan perlakuan kalium permanganat dibawah 2 ppm. Meskipun demikian untuk burayak dalam kolam tidak dianjurkan untuk menggunakan perlakuan kalium permanganat. Hal ini tidak ada hubungannya dengan keracunan yang mungkin terjadi pada burayak, tetapi efeknya justru terhadap kemungkinan berkurangnya fitoplankton dan makrofit yang dapat menyebabkan burayak menderita kelaparan.

Untuk jenis Catfish, perlakuann kalium permanganat sering dianjurkan untuk dilakukan pada konsentrasi diatas 2 ppm. Meskipun demikian dosis yang aman adalah 2 ppm.

Fungsi lain dari kalium permanganat dalam akuakultur adalah sebagai antitoxin terhadap aplikasi bahan-bahan beracun. Sebagai contoh, Rotenone dan Antimycin sering digunakan sebagai bahan piscisida, yaitu bahan untuk membunuh ikan hama atau ikan lain yang tidak dikehendaki. Alih-alih menunggu bahan ini netral secara alamiah dalam waktu tertentu, kalium permanganat digunakan untuk segera menetralkan kedua bahan tersebut. Konsentrasi 2-3 ppm selama 10-20 jam diketahui cukup untuk menetralisir residu Rotenone atau Antimycin. Pendapat lain menyatakan bahwa dosis PK sebaiknya diberikan setara dengan dosis piscisida yang diberikan, sebagai contoh apabila Rotenone diberikan sebanyak 2 ppm, makan untuk menetralisirnya PK pun diberikan sebanyak 2 ppm.

Prosedur Perlakuan PK (untuk jamur, parasit, dan bakteri)
Pertama by pass filter biologi. PK dapat membunuh bakteri dalam filter biologi. Kedua pastikan bahwa aliran air dan aerasi bekerja optimal, karena pada saat molekul-molekul oragnik teroksidasi, dan algae mati maka air akan cenderung keruh dan oksigen terlarut menurun. Ketiga berikan dosis sebanyak 2-4 ppm.

Dosis 2 ppm diberikan pada ikan-ikan muda atau ikan-ikan yang tidak bersisik. Sedangkan dosis 4 ppm diberlakukan pada ikan-ikan bersisik. Selang dosis tersebut tidak akan merusak tanaman, sehingga biasa digunakan untuk mensterilkan tanaman dari hama dan penyakit, terutama dari gangguan siput dan telurnya.

Sebagai gambaran umum satu sendok teh peres (jangan dipadatkan) kurang lebih setara dengan 6 gram. Hal ini dapat dijadikan patokan untuk mendapatkan dosis yang diinginkan apabila timbangan tidak tersedia.

Perlakuan biasanya dilakukan 4 kali berturut dalam waktu 4 hari, dengan pemberian PK dilakukan setiap pagi hari. Apabila pada perlakuan ketiga atau keempat air bertahan berwarna ungu selama lebih dari 8 jam (warna tidak berubah menjadi coklat), maka hal ini dapat dijadikan pertanda untuk menghentikan perlakuan. Karena hal ini menunjukkan bahwa PK sudah tidak bereaksi lagi, atau dengan kata lain sudah tidak ada lagi bahan yang dioksidasi. Setelah perlakuan dihentikan lakukan penggantian air sebanyak 40 % untuk segera membantu pemulihan warna air.

Sifat Fisika dan KimiaTampilan:

kristal berwarna ungu
Bau:tidak berbau
Kelarutan: 7g dalam 100 g air
Berat jenis: 7
pH: tidak ada informasi
Volatilasi (21°C): 0
Titik didih: N/A
Titik Cair: 240°C
Tekanan Uap: Tidak ada informasi
Laju Penguapan: Tidak ada informasi
Peringatan:
Jangan sampai kontak dengan pakaian dan bahan lain yang mudah terbakar. Simapan dalam tempat tertutup rapat. Jangan simpan didekat benda mudah terbakar.
Cuci segera pakaian yang terkena. Jangan terkena mata atau kulit. Jangan hirup debu PK. Cuci tangan setelah menggunakan.
Pertolongan Pertama:
Apabila terkena mata atau kulit. Segera siram mata dan kulit dengan air yang banyak selama 15 menit. Apabila terhirup segera pindahkan korban ke udara bersih; apabila tidak dapat bernapas beri pernapasan buatan; apabila kesulitan bernapas beri oksigen. Apabila tertelan: Jangan rangsang agar muntah, minum air yang banyak. Segera kontak dokter.

Sumber : O-FISH

Selasa, 11 Mei 2010

Teknik Memancing Cacing

Cacing tanah dapat dipancing untuk masuk ke dalam sebuah jebakan yang kita buat. Caranya adalah sebagai berikut.

Cari lokasi yang kira-kira banyak cacingnya, dan buatlah lubang sedalam 30 cm. Berilah alas plastik atau karung plastik bekas. Isilah lubang tersebut dengan kotoran ternak (yang sudah kering dan tidak berbau), batang pohon pisang yang udah dicacah kecil-kecil, atau jerami, dan campurlah dengan tanah yang gembur, dan tutup lagi dengan tanah. Susunlah alas plastik atau karung plastik bekas tadi sedemikian rupa sehingga cacing masih bisa masuk ke lubang dan mudah pula untuk menarik beserta isi lubang tersebut.

Setelah 3-4 hari biasanya akan banyak cacing tanah yang terperangkap dalam galian tersebut dan angkatlah plastik beserta isinya untuk mengambilnya.

Senin, 10 Mei 2010

Lobster Air Tawar: Punya Peluang tapi Enggan Berkembang

Kebanyakan pelaku hanya main di bibit dan induk, enggan merambah pembesaran dengan alasan perlu lahan luas. Alhasil kebutuhan konsumsi tak tertutupi.

Nama Koplati (Koperasi Peternak Lobster Air Tawar Indonesia) sebagai wadah bergabungnya pembudidaya lobster air tawar (LAT) pernah berkibar di Jogjakarta, bersama maraknya bisnis komoditas tersebut di Kota Gudeg rentang 2006 – 2007. Tetapi kini nama itu sudah tidak terdengar lagi. Anggotanya rontok satu per satu, bahkan pengurusnya pun kini sudah tidak bermain di bisnis LAT. Keterangan ini disampaikan Eko Triyono, seseorang yang masih eksis sebagai pembudidaya dan pengepul lobster dari Janti – Jogjakarta. Kepada TROBOS ia mengaku, meski usahanya masih berjalan tetapi luasan lahan dan volume produksi seadanya. Fenomena ini tak hanya terjadi di Jogjakarta. Rame bisnis LAT beberapa waktu lalu hanya seumuran jagung.
Sugeng Widaryanto, pemilik Vizan Farm, Sawangan-Depok yang pernah budidaya LAT 2005 – 2009, membenarkan singkatnya masa keemasan LAT. Ia sempat mencicipi manisnya masa itu, ketika produksinya mencapai puncak di 2007 – 2008. “Per bulan produksi sekitar 1 kuintal atau 25 kg per minggu dengan harga jual Rp 125 ribu per kg,” sebut Sugeng. Padahal biaya produksi hanya Rp 40 ribu – 50 ribu per kg-nya saat itu.
Tetapi selewat itu, bisnis LAT meredup. Terakhir, menurut Sugeng hasilnya tidak sepadan, dan target omset tak terpenuhi kendati sudah mengoperasikan 2 farm di Sawangan dan di Bogor. Harga benih yang Rp 1.250 – Rp 2.500 tidak menguntungkan, “Akan menguntungkan kalau harganya di kisaran Rp 1.000 – Rp 1.250,” ujarnya. Dan yang paling memberatkan adalah soal lahan. Budidaya LAT, terutama untuk pembesaran memakan lahan yang lumayan luas. Karena lahan yang dimilikinya terbatas, ia pun kini lebih memilih budidaya ikan hias. “Tidak perlu lahan luas, dan hasilnya lebih bagus,” ia mengutarakan argumen.
Alasan ini pula yang antara lain menjadi sebab tidak berkembangnya bisnis LAT. Menurut Eko, kebanyakan pembudidaya waktu itu sebatas menghasilkan bibit dan induk. “Sebagian besar waktu itu hanya ikut-ikutan,” kisahnya. Karena tergiur harga yang tinggi sementara budidayanya tak menuntut lahan luas, cukup dengan akuarium. Latah ini tidak diimbangi dengan membangun budidaya pembesaran secara massal sebagai muara produksi bibit LAT. Dan alasan utamanya karena pembesaran membutuhkan kolam-kolam yang memakan tempat.

Belum Merakyat
Meski demikian peluang LAT diyakini masih terbuka, baik pasar domestik maupun internasional. Karena LAT diharapkan mampu menjadi komoditas pengganti (substitusi) lobster air laut yang ketersediaannya mengandalkan tangkapan nelayan. Sementara keberadaannya di alam semakin terbatas. Pemilik ILC Farm Tangerang, Fahdiansyah Rambe, mengatakan pasar sampai sekarang masih terus membutuhkan produk ini. “Komoditas ini masih dicari,” ucapnya.
Tetapi pemasaran LAT juga tidak mudah, masih ditemukan kesulitan. LAT bukanlah jenis pangan yang populer bagi kebanyakan konsumen. Sebagian kalangan masih menganggapnya sebagai komoditas baru. “Belum merakyat,” Fahdian mengistilahkan. Sehingga serapan pasar pun belum begitu banyak dan pelaku budidaya sebagai produsen masih harus mencari pasar yang terbatas tersebut. Pasar yang secara berkala rutin dapat menyerap masih terus dicari. Untuk masuk ke restoran menengah ke bawah, kaki lima atau warung tenda, lanjut Fahdian, masih sulit. Karena “barang baru”, pengusaha kuliner masih harus mempelajari terlebih dahulu menu LAT dan cita rasa yang akan disajikan. “Dan yang pasti, pasar menengah ke bawah belum berani karena harga belum bersaing. Kalau harga LAT di bawah Rp 100 ribu per kg mungkin mereka berani,” ujarnya.
Menurut Fahdian, harga LAT saat ini bervariasi di kisaran Rp 90 ribu – Rp 150 ribu per kg, tergantung pasar yang dituju. Kalau bermain di pasar menengah ke atas harga bisa mencapai Rp 125 ribu bahkan maksimal Rp 150 ribu per kg nya. “Biasanya harga segitu untuk segmen hotel dan restoran dengan pemesanan yang rutin. Mereka berani ambil harga tinggi. Salah satunya misal LAT menggantikan daging sapi sebagai campuran olahan spaghetti,” ia menyebut contoh. Fahdian mengaku, salah satu pasar yang diandalkannya adalah memasok 30 – 40 kg LAT per minggu ke hotel di Jakarta dan Balikpapan dalam kondisi hidup.

Permintaan Tak Terpenuhi
Tetapi di sisi lain, fakta sebaliknya pun tersaji. Kebutuhan pihak-pihak tertentu dalam jumlah besar sampai sekarang belum mampu dipenuhi pembudidaya. Sebuah jurang fakta yang ironis. Dua titik saling membutuhkan tetapi tidak ketemu. Sebagian pembudidaya kesulitan mencari pasar, di sisi lain permintaan tinggi tidak terpenuhi.
Nico Kawara misalnya, pembudidaya LAT asal Candi Gebang – Sleman ini mengatakan, permintaan LAT dari Bali tiap bulannya 100 kg per bulan. Namun pihaknya tidak mampu memenuhi permintaan itu. “Belum lagi kalau menggarap permintaan ekspor ke Korea sebanyak 500 kg per bulannya. Belum bisa dipenuhi karena sampai hari ini kita sebatas bermain bibit saja,” ujarnya bernada sesal. Ia pun tak menampik, sudah waktunya pelaku, termasuk dia, memikirkan budidaya pembesaran.
Selama ini, lanjut Nico, untuk mencoba memenuhi order dari Korea itu ia berburu pasokan sampai ke Jawa Barat, Semarang, Medan, dan Padang. “Ternyata meskipun telah bertahun-tahun membudidayakan LAT, volume produksi mereka kecil-kecil. Sehingga dari 500 kg itu kita baru bisa memenuhi 50%,” kata penyandang gelar sarjana ekonomi bidang keuangan ini.
Senada dengan Nico, Cuncun Setiawan, Pemilik BFC (Bintaro Fish Center) Tangerang mengatakan permintaan ekspor dari Amerika Serikat untuk LAT dalam jumlah besar masih ada. Tetapi syarat dari pembeli, pasokan tidak boleh tanggung-tanggung. “Permasalahan utama, kita belum bisa suplai banyak karena produksi belum banyak,” setengah gregetan Cucun mengutarakan.
Namun Cuncun optimis pasar LAT akan terus berkembang. Bahkan bakal bisa merambah ke segmen menengah ke bawah dengan mengatur ukuran LAT untuk konsumsi. Apalagi lobster air laut produksinya semakin terbatas karena ditangkap terus dan tidak ada usaha budidaya. “Peluang LAT untuk mensubstitusi,” ujar Cuncun.

Kolam Karpet
Menyoal lahan, Cuncun punya cara untuk menyiasati keterbatasan lahan di perkotaan. Menurut dia, pembuatan kolam dengan memanfaatkan karpet, terpal atau plastik bisa jadi pilihan. Dan sangat cocok untuk daerah yang jauh dari sungai. “Kolam karpet ini biayanya murah, hanya butuh sekitar Rp 3 juta per kolam. Biaya segitu untuk karpet 9 buah, lem dan upah tenaga kerja. Bandingkan dengan kolam yang dicor pakai semen, bisa mencapai Rp 30 juta,” jelas pria fokus di budidaya LAT sejak 2002 ini. Soal daya tahan, menurut Cuncun masa pakainya bisa cukup lama karena bahannya didesain tidak hancur meski kena panas dan hujan, terutama pada bagian yang terendam air. Sementara bagian yang terpapar sinar matahari tapi tidak terendam, relatif lebih cepat robek.
Tetapi, Cuncun juga menjelaskan, untuk tujuan pertumbuhan LAT yang pesat, kolam tanah adalah pilihan terbaik. Asal dinding tanah tidak merembes, kolam tanah produksinya lebih cepat, efisien, ekonomis dan mudah. “Jenis tanah liat dengan sedikit berpasir biasanya mampu menahan air yang masuk. Kalau pasirnya banyak, air akan merembes,” jelasnya. Selain itu, tambah Cuncun, harus ada sumber air yang cukup banyak dan terus-menerus, misalnya sungai, untuk melawan air yang merembes.
Dimintai keterangannya, ahli LAT dari Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Karawang, Fitria Nawir mengatakan pemeliharaan LAT pilihan jenis tempat pemeliharaan ini harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan pemeliharaan. Bila LAT yang dipelihara untuk dijadikan sebagai lobster hias maka akan lebih baik berada di aquarium. Bila LAT untuk indukan sebaiknya dipelihara di kolam buatan seperti aquarium, bak semen maupun fiber karena lebih gampang dalam hal monitoring. “Kalau LAT untuk tujuan konsumsi sebaiknya dipelihara pada kolam tanah karena memiliki nilai pertumbuhan lebih cepat dibandingkan di kolam buatan,” ujarnya.

sumber: www.trobos.com

Pakan Ikan dari Cacing Tanah (membuat pelet ikan dari cacing tanah)

Cacing tanah tentu sudah tak asing lagi bagi kita. Hewan tingkat rendah yang tidak bertulang belakang ini bisa ditemukan di tanah lembab di lingkungan sekitar rumah kita terutama yang rumahnya di daerah pedesaan. Tentunya ini bisa menjadi sumber alternatif makanan ikan yang murah (seperti kita ketahui bersama bahwa harga pelet ikan saat ini sangat mahal).Hewan yang termasuk dalam kelas oligochaeta ini mempunyai kandungan protein tinggi mencapai 58% - 78% dari berat kering. Ini lebih tinggi dari pada protein yang terdapat pada sapi, kerbau, kambing, telur ataupun kedelai. Dan kadar lemak hanya 3% - 10%. Selain itu juga mengandung energi 900 kal - 1.400 kal, abu 8%-10%, kalsium, fosfor dan serat.

Selain dapat diberikan ikan secara langsung (untuk ikan besar), cacing tanah dapat juga dibuat berbentuk pelet, dengan cara berikut. Cacing tanah yang telah dibersihkan dengan cara mencuci kemudian dikeringkan di dalam oven dengan suhu 32-35 derajat celcius hingga kering, atau juga bisa dengan cara meletakkan cacing di atas seng dan menjemurnya di terik matahari selama 12 jam. Kemudian cacing dihancurkan dengan cara di tumbuk ataupun dengan mesin penggiling. Cacing kering ini bisa tahan disimpan selama 3 minggu, lebih dari itu kualitas akan menurun.

Selanjutnya tepung cacing dicampur dengan bahan-bahan lain dengan komposisi tepung cacing 41%, telur ayam 20%, terigu 14%, dedak 18%, dan kanji 1%. Campur semua bahan dengan merata, dan tambahkan air hangat secukupnya hingga adonan kenyal (penggunaan air sesedikit mungkin).

Cetak adonan yang cukup kenyal sesuai dengan ukuran dan bentuk yang diinginkan (tentunya bentuk dan ukuran yang nyaman untuk ikan bisa memakannya). Jemur di terik matahari selama 12 jam (sampai kering betul), dan pelet siap digunakan.

Daftar Pustaka:
Anonim, "Cacing tanah", 2010 (http://id.wikipedia.org)
--------, "Budidaya Peternakan Cacing Tanah (Lumbricus sp.), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kementerian Riset dan Teknologi, 1999 (www.iptek.net.id)
--------, "Pakan Ikan", WARINTEK - Menteri Negara Riset dan Teknologi, (www.iptek.net.id)
Khairuman, SP, "Mengeruk Untung dari Beternak Cacing", Jakarta, 2009

Komunitas Kolam Air Tawar

Semoga bisa menjadi tempat bersilaturahmi,berbagi informasi dan pengetahuan dalam bidang perikanan air tawar.